Wednesday, January 06, 2010

Ilham Nusantara





Antara Dua Jurang


Api yang berbalam di dada malam
bukanlah suatu kebakaran
tapi suatu cahaya penghidupan
anak bumiputra meredah jalan ke bintang.


Api itu kian menyilau dan bersinar
di dada kota di pinggir belantara
dengan cahaya kemurnian cita
dan keutuhan hidup kian menjelma.


Hari ini kian cerahlah kehidupan
dari puncak menara mengibarkan bicara mesra
keutuhan hidup bimiputra jangan didera
biar penghidupannya menguntum di mana-mana.


Iya, tersibarlah bicara unggun cita
dan wujudlah segala usaha ditaja
bintang-bintang kembali sinarnya
dengan serinya setara --
di antara bintang-bintang di dada kota.


Sehingga akhirnya kian rengganglah
antara dua jurang --
dari malam suram menerangi cahaya gemilang
dan kembalilah rukun damai diabadikan
bila perpaduan antara dua jurang dirangkumkan.


(Utusan Zaman, 31.10.1971)




untuk hidup dalam terang cahaya
telus dan terang
mimpi sang idealist
boleh ku ragu apa bezanya
mimpi mat jenin.

berpaling, terpekak, membisu
atau mengamati dari sembunyi
ragu?

tidak ternafikan
di mana terpancarnya cahaya
wujudnya segenap kegelapan
jika hadirnya sebadan jasad.

hadirnya saat ini, ternanti
ramalkan aku kan gembira
tapi hakikatnya
aku sudah,
tidak kesah

hiduplah,
kerna aku sudah,
tidak kesah

No comments:

Post a Comment